Biar Perguruan Tinggi Tidak Menjadi Menara Gading

 Biar Perguruan Tinggi Tidak Menjadi Menara Gading

Di Nganjuk, ada 11 perguruan tinggi. 7 perguruan tinggi umum dan 4 perguruan tinggi agama. Yang agama terdiri dari, 3 perguruan tinggi agama Islam, dan 1 perguruan tinggi agama Kristen.

Yang PTU ada STKIP PGRI, STIE, STIKES Nganjuk, Akademi Komunitas UNEJ Jember di Nganjuk, AKBID Kertosono, STT Pomosda Tanjunganom, dan ada Universitas Terbuka (UT) UPBJJ Nganjuk.

Yang PTAI ada STAI Miftahul Ula Nglawak Kertosono, STAI Darussalam Krempyang Tanjunganom, IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, dan Sekolah Tinggi Teologi (Kristen) Abdi Gusti Bajulan Loceret Nganjuk.

Dari 11 perguruan tinggi tersebut yang sudah memiliki program Pascasarjana adalah IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk dan STT (Kristen) Abdi Gusti.

Di IAI Pangeran Diponegoro memiliki prodi Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Di STT (Kristen) Abdi Gusti memiliki 2 prodi Pascasarjana, Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan Teologi.

Dari 11 perguruan tinggi yang ada di Nganjuk, yang belum di ketahui oleh banyak orang adalah Sekolah Tinggi Teologi (Kristen) Abdi Gusti Loceret Nganjuk.

Saya sendiri baru mengetahui sekitar 2 tahun lalu. Padahal berdirinya sejak 31 Mey 2013.

Tempat atau lokasinya memang tidak di perkotaan, namun agak minggir ke pelosok pegunungan. Tidak seperti kampus lainnya. Lokasinya berada di pedalaman, pegunungan, atau pinggir hutan. desa Bajulan kecamatan Loceret Nganjuk.

Di Nganjuk, belum ada perguruan tinggi negeri (PTN). Yang ada semua PTS dan PTAIS. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para pemangku kebijakan di Nganjuk.

Terlepas dari semuanya, yang jelas ada potensi 11 perguruan tinggi. Tempat memproduk SDM muda sesuai bidang (prodi), dan sebagai tempat pemproduk keilmuan (konsep-teoritik) melalui diskusi, perdebatan, kajian, dan penelitian ilmiah. Memiliki tradisi memecah persoalan dengan pendekatan ilmiah penelitian.

Tentu potensi yang ada (11 PT) sampai hari ini belum ada sinergi maksimal dengan pemerintah daerah. Perguruan tinggi semacam masih di “menara gading”. Hanya menjalankan rutinitas dan memproduk secara rutin dari SDM sesuai prodi yang dimiliki. Bahkan prodi dari PT yang sudah ada sejak lama sekali hanya menumpu produk.

Tentu ini harus segera ada perkumpulan para elit perguruan tinggi. Juga pemerintah yang mungkin selama ini lebih belum/tidak menjadikan mitra, juga harus segera merangkul potensi PT yang jumlahnya tidak sedikit.

Pemerintah setiap membuat kebijakan pasti didasarkan pada kebutuhan problem masyarakat yang harus dijawab. Dijawab dengan kebijakan. Maka untuk mengurai problem kebutuhan tersebut bisa melibatkan perguruan tinggi yang ada. Untuk membantu mengurai dan mencari solusi problem berdasarkan perspektif dan tradisi PT.

Dengan demikian akan bisa membatu dalam mengurai problem dengan tepat dan cepat. Biar perguruan tinggi yang memiliki potensi SDM tidak berada di menara gading. Tapi juga memiliki fungsi praktis di tengah kebutuhan masyarakat bersama pemerintah melalui pengabdian masyarakat.

Dr. Muhamad Ali Anwar, M.Pd.I.
Ketua PC ISNU Nganjuk

Digiqole ad

admin

Related post