Berharap Pesantren Jadi Sentrum Peradaban

 Berharap Pesantren Jadi Sentrum Peradaban

Tidak ada yang baru dalam tulisan ini. Argumentasinya pun sederhana: bahwa sisi moralitas lebih penting ketimbang kecerdasan intelektual belaka. Namun, untuk sampai pada kenyataan yang masih banyak disangkal tersebut, perlu pelan-pelan untuk memahami realitas pendidikan hari ini yang kian suram.  Keadaan di Indonesia saat ini, mayoritas masyarakat lebih mengedepankan nilai dari angka kecerdasan dan kepintaran ketimbang nilai etika yang tidak dapat diukur dengan angka. Pendidikan bukanlah segalanya, namun segalanya berawal dari pendidikan. Pejabat korup, konglomerat yang mementingkan dirinya sendiri, bahkan netizen yang debat kusir di media sosial adalah dampak buruknya pendidikan.

Kenakalan remaja siswa sekolah juga tidak sedikit terjadi. Sepanjang tahun 2020 seperti tawuran, hamil di luar nikah, perjudian, minum-minuman keras, kecanduan napza, bunuh diri dan banyak lagi lainnya adalah potret suram generasi bangsa saat ini. Bahkan, kasus berdarah juga terjadi, dilakukan oleh seorang remaja asal Gresik Jawa Timur yang tega membunuh ibu kandungnya sendiri lantaran kesal sering diomeli. Belum lagi banyaknya kasus pesta minuman keras, seperti dilansir oleh Tribun News dan media lain. Para remaja digerebek saat pesta miras di sebuah indekos. Tidak hanya itu tindakan mereka tersebut juga disertai dengan perbuatan asusila (Tribunnews.com, 2021). Tidak hanya itu sederet perilaku yang amoral terus berseliweran dikabarkan melaui berita, baik di media sosial maupun media mainstream.

Kalau sudah begini, bagaimana nasib Bangsa Indonesia jika diteruskan oleh generasi seperti ini. Lalu, siapakah yang bertanggung jawab? Saya kira ini menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk pemerintah. Jangan hanya memberi hukuman terhadap remaja yang berperilaku amoral, tapi juga perlu memberi edukasi kepada mereka. Tampaknya, kita sama-sama perlu mengintrospeksi pendidikan di Indonesia. Terutama di dalam dunia pendidikan harus ditanamkan nilai-nilai moralitas yang tinggi. Mungkin saja lupa, kita sebenarya sama-sama punya lembaga pendidikan yang sampai hari ini senantiasa menjaga nilai moralitas sekaligus intelektualitas peserta didik. Dalam kondisi demikian, barangkali kita perlu melihat lembaga pendidikan lain selain sekolah, yaitu pesantren.

Sejauh catatan sejarah dalam buku Atlas Walisongo (Agus Sunyoto, 2016, hlm. 410), pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia setelah era Hindu-Buddha. Pesantren berdiri seiring dengan proses penyebaran agama Islam di Nusantara. Selain menjadi tempat belajar, pesantren juga sebagai tempat sentral para wali melakukan aktifitas-aktifitas dakwah Islam. Melalui karomah dan tingginya tingkat keilmuan yang dimiliki, masyarakat setempat berbondong-bondong untuk belajar kepadanya. Bahkan tidak sedikit para wali menjadi guru spiritual raja dan penasehat kerajaan. Seperti kisah Syekh Sulaiman Syamsuddin atau lebih dikenal dengan Syekh Wasil Setono Gedong yang menjadi guru dari Raja Kediri Sri Aji Jayabaya.

Pesantren pada awal munculnya adalah hasil asimilasi pendidikan Hindu-Buddha bernama dukuh. Para wali kemudian mengambil alih model pendidikan dukuh menjadi pusat pembelajaran Agama Islam. Orang-orang yang belajar di dalamnya disebut santri. Kata santri sendiri merupakan adaptasi istilah sashtri sebagai sebutan orang-orang yang mempelajari kitab suci atau dalam Bahasa Jawa Kawi adalah Sashtra. Mengutip dari catatan Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, seorang sejarawan Timur Tengah dari Skotlandia dalam bukunya “Whither Islam? : A Survey of Modern Movements in The Moslim World”. Ia menuliskan bahwa dalam tradisi pesantren tersebut diajarkan tentang silakrama yang berisi tata tertib, sikap hormat, dan sujud bakti kepada gurubakti (Gibb, 1932, hlm. 257). Gurubakti dalam silakrama mencakup tiga guru, yaitu orangtua yang melahirkan (guru rupaka), guru yang mengajarkan ruhani (guru pangajyan), dan raja (guru wisesa). Gagasan tentang gurubakti ini masih dapat kita jumpai dalam masyarakat Muslim Madura dengan konsep bapa-babu-guru-ratu.

Para sashtri, dalam konsep gurubakti tersebut terdapat ajaran tidak boleh duduk berhadapan dengan guru, tidak boleh memotong pembicaraan guru, menuruti apa yang diucapkan oleh guru, mengindahkan nasehat guru meski dalam keadaan marah, berkata-kata yang menyenangkan guru, jika guru datang maka harus turun dari tempat duduknya, jika guru berjalan mengikuti dari belakang, dan sebagainya. Ajaran tentang tatakrama demikian sampai sekarang masih dilestarikan oleh pesantren. Pendidikan moralitas pendidikan ini senada dengan aturan-aturan yang terdapat dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya Syaikh az-Zarnuji.

Sebagai model pendidikan indigenous atau asli pribumi yang berlangsung ratusan tahun, pesantren kiranya mampu terus beradaptasi dengan segala perubahan zaman, termasuk zaman sekarang ini. Modernitas telah memberi tantangan kepada pondok pesantren untuk tetap bertahan atau tidak. Tidak sedikit pula pondok pesantren yang kini tersisa bekas bangunannya saja, karena tidak ada santrinya. Ada beberapa alasan, pertama tidak dapat mengikuti tuntutan zaman, tidak ada lembaga sekolah formal, ada juga yang disebabkan ditinggal pengasuhnya, karena konflik keluarga, dan lain sebagainya. Akan tetapi, tidak sedikit pula pondok pesantren yang semakin eksis dan mentereng di tengah arus perubahan zaman.

Terlepas dari itu semua, pondok pesantren tetaplah menjadi pelopor pendidikan Islam dan penjaga moral yang harus dipertahankan. Di lain sisi, lembaga pendidikan pesantren menghadapi tantangan yang serius. Semakin cepatnya arus informasi dan digitalisasi, maka semakin komplek pula problem yang harus dihadapi pesantren. Selain kemampuannya menjaga marwah moralitas, pesantren juga harus bisa beradaptasi dengan modernitas. Zaman yang terus berkembang, pesantren juga harus berkembang. Selain itu, pesantren harus tampil sebagai solusi atas degradasi moral seperti penjelasan tadi.

Seiring dengan angin segar tentang pengakuan pesantren dalam bentuk pengaturan secara utuh dan komprehensif, maka ini merupakan kesempatan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menjadi rekognisi negara atas keberadaan pesantren yang jumlahnya—menurut data Kementerian Agama tahun 2018—sebanyak 28.194 pesantren. Menyambut hal itu, pesantren dengan segenap kekhasan dan independensi penyelenggaraan pendidikannya harus siap.  Pesantren harus mempersiapkan beberapa hal yang tetap mengacu pada prinsip al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, dalam artian pesantren harus mampu memelihara tradisi lama yang masih relevan dan memiliki terobosan baru yang lebih baik. Beberapa konsep di bawah ini kiranya dapat menjadi tawaran untuk pesantren yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pertama, mengintegrasikan pendidikan klasik pesantren dan sekolah formal. Pola integrasi antara pesantren dan sekolah formal ini sudah dilakukan oleh berbagai pondok pesantren. Misalnya adalah Pondok Pesantren Keringan Nganjuk KH. Abdullah Amir yang mengintegrasikan kurikulum pesantren dengan sekolah formal. Pengintegrasian itu dilakukan mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah. Salah satu bentuk integrasi pendidikannya adalah dengan mewajibkan bertempat tinggal di pondok pesantren ketika siswa telah menginjak kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Aturan tersebut diterapkan oleh Sekolah Dasar Islam (SDI) Miftahul Huda yang lokasinya berdekatan dengan pondok pesantren. Tujuannya adalah menggembleng para siswa agar memiliki pondasi ketakwaan yang kuat. Selain itu, penekanan pada pendidikan moralitas menjadi basis pengajaran.

Kedua, pesantren harus menelurkan design kurikulum baru dalam konteks pembelajaran. Hal ini dibutuhkan setelah para santri yang belajar di pesantren menguasai keilmuan Islam degan basis moralitas. Sementara kurikulum yang dibutuhkan ialah spesifikasi ahli dalam bidang keilmuan tertentu. Bisa dalam bidang teknologi, kedokteran, astronomi, ahli fikih, ahli pendidikan, ilmu tasawuf, ahli bahasa, ahli kimia, dan rumpun ilmu lainnya. Hal ini serupa dengan yang digeluti oleh ulama-ulama salafus shalih tempo dulu. Seperti Ibnu Sina yang ahli dalam bidang ilmu kedokteran. Mengembangkan design kurikulum seperti ini memang sulit dilakukan. Termasuk pengajar yang memang ahli dalam bidang tertentu dan juga dengan instrumen lain yang mendukung. Sehingga para lulusan pesantren nantinya akan memiliki spesifikasi ahli.

Model seperti ini memang mirip dengan kurikulum yang ada di perguruan tinggi. Namun, itu hanya dalam ranah spesifikasi keilmuan saja, bukan dalam model pembelajaran. Dalam rangka pelaksanaan proses belajar mengajar, pesantren perlu tetap memegang teguh pola bandongan dan sorogan. Dengan pola pembelajaran seperti ini akan lebih efektif. Karena seorang santri bisa lebih dekat dengan gurunya. Sementara guru dapat mengetahui dan mengontrol kemampuan muridnya secara serius. Seorang guru juga tidak sembarangan, tapi memang betul-betul ahli dalam bidangnya, agar menghasilkan murid yang juga ahli dalam bidangnya.

Ketiga, pesantren mendidik santri agar mampu menguasai berbagai bahasa, terutama bahasa asing. Kenapa bahasa? Sebab, bahasa adalah kuncinya pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang kini tersebar luas, tersedia dalam berbagai bahasa asing. Seringkali, keilmuan tertentu yang kompeten hanya tersedia dalam bahasa tertentu. Tidak jarang santri yang seharusnya bisa mempelajarinya dengan baik, justru kelabakan karena tidak menguasai bahasanya. Dengan menguasai berbagai bahasa asing tersebut diharapkan para santri mampu menguasai spesifikasi keilmuan yang ditekuninya, sebab tidak semua naskah-naskah keilmuan dapat diakses dengan Bahasa Indonesia.

Dengan pola inovatif demikian, kiranya dapat menjadi acuan pesantren-pesantren untuk melakukan terobosan baru tanpa meninggalkan tradisi lama yang masih relevan.  Harapannya pesantren di masa depan semakin eksis menjadi sentrum peradaban dunia. Tentu saja tawaran konsep di atas belum mencapai tahap final, akan tetapi masih membutuhkan kajian lebih lanjut dan mendalam. Meski kini, sebagian masyarakat masih menganggap pesantren sebagai pendidikan tradisionalis kaum sarungan, saya tetap bangga menjadi bagian dari pesantren.

Oleh: Isnan Elsam (Anggota Gusdurian Jawa Timur)

Digiqole ad

admin

Related post