Ajak Respon Perkembangan Zaman, Lakpesdam NU Prambon Gelar Bedah Buku Santriducation 4.0

 Ajak Respon Perkembangan Zaman, Lakpesdam NU Prambon Gelar Bedah Buku Santriducation 4.0

Kita mulai sering mendengar dan melihat cuitan di sosial media seputar revolusi Industri 4.0. Mungkin masih banyak diantara kita yang masih mempertanyakan apa itu industri 4.0 sebenarnya. Sebab, masih banyak kesalahan informasi seputar industri 4.0 dikalangan masyarakat yang nanti akan berdampak pada pelaksanaan persiapan menghadapi era 4.0 khususnya dalam bidang pendidikan khususnya pesantren.

Ini yang menjadi poin penting dalam pembahasan dalam bedah buku Santriducation 4.0 karya M. Nawa Syarif Fajar Sakti oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) MWCNU Prambon Ahad (7/3)2021 di kantor MWCNU setempat.

Sebagai generasi milenial mendengar istilah industri 4.0 terasa seperti kalimat yang futuristik karena terdiri diri huruf, angka dan tanda baca seperti nama-nama aplikasi yang ada di android atau sebuah program perangkat lunak (MIUI 8.0, Mozilla Firefox 8.1.0, WhatsApp 6.0, dan lain-lain).

Penambahan angka dibelakang nama tersebut menandakan ada sebuah versi yang di update untuk memperbarui sebuah program yang dirancang sesuai dengan perkembangan zamannya.

Hal ini serupa dengan industri 4.0 tersebut. Yang membedakan adalah industri 4.0 bukan seperti nama-nama yang ada nomor dibelakangnya tadi, karena industri 4.0 bukan sebuah aplikasi gadget atau sebuah program perangkat lunak melainkan Industri 4.0 ini adalah konsep untuk menggambarkan dunia industri dunia yang mengalami pembaharuan sesuai dengan kondisi perkembangan zaman, untuk mempermudah penyebutan pembaharuan ini maka diberikan tambahan angka dibelakangnya seperti aplikasi-aplikasi yang terdapat pada program perangkat lunak.

“Yang perlu disadari dari industri 4.0 ini selain pada perkembangan dunia industrinya adalah perpindahan ruang publik dari yang sempit menjadi semakin terbukanya ruang publik dalam berkomunikasi antar manusia. Perubahan ini yang akan merubah pesantren dari sisi tradisinya” ungkap penulis.

Diskusi bedah buku yang dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari Kiai sampai praktisi pendidikan ini memberikan paradigma baru dalam pendidikan pesantren. Bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan terbaik di Indonesia saat ini, namun tidak boleh lepas dalam kiprahnya di masyarakat.

Tidak hanya mengikuti perubahan zaman namun harus menjadi penggerak perubahan zaman. Santri bukan lagi penyedia SDM kebutuhan industri dan masyarakat, tapi menjadi penggerak kebutuhan yang berkarakter religius kuat.

“Supaya tidak menjadi penyedia SDM industry kuncinya adalah memberikan kebebasan atau kemerdekaan belajar para santri. Pesantren hadir menjadi wadah bakat para anak Indonesia dan

Buku Santriducation 4.0 memberikan gambaran dunia industry saat ini dan posisi pesantren mulai dari pulang hingga tantangannya. Dan ternyata hukum ekonomi tidak saja berlaku untuk dunia perekonomian saja, namun beranjak kepada pendidikan dimana semakin tinggi permintaan semakin tinggi pula penawaran, hal ini berdampak pada semakin banyaknya tipologi pesantren mulai dari pesantren salaf, khalaf, terintegrasi, kilat dan pesantren rakyat.

Selain itu terdapat tipologi kiai mulai dari kiai pondok, kiai tarekat, kiai panggung hingga kiai politik. Semua tipologi ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin banyak dan peran pesantren tidak terbatas pada aspek spiritual tapi juga menjalankan berbagai fungsi sosialnya.

Pewarta: Afandi

Digiqole ad

admin

Related post