kpkgg
Daerah

Rentak Kapuas Festival 2026 Fasilitasi Para Perupa Mengkritisi Isu Lingkungan Kalimantan

Rentak Kapuas Festival 2026 di Kalimantan Barat menjadi sebuah platform yang menarik bagi para seniman untuk mengekspresikan pemikiran kritis mereka terhadap isu-isu lingkungan yang mendesak. Dalam konteks perubahan ekologi yang nyata, festival ini tidak hanya menjadi ajang pameran seni, tetapi juga sebuah ruang refleksi yang menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup, terutama terkait dengan kondisi Sungai Kapuas.

Refleksi Melalui Seni: Tema Memoar Muara

Menurut Gabriel Manuel, Kepala UPT Taman Budaya Kalbar, festival ini mengusung tema “Memoar Muara,” yang berfungsi sebagai penghormatan terhadap sejarah dan peradaban yang tumbuh di sekitar Sungai Kapuas. Tema ini bukan hanya sekedar estetika, tetapi juga mengajak pengunjung untuk merenungkan perjalanan waktu serta dampak yang ditimbulkan oleh perubahan lingkungan.

Partisipasi Seniman Lokal

Pameran seni ini melibatkan 30 seniman lokal, yang menampilkan total 10 karya dua dimensi berupa lukisan dan 20 karya instalasi. Setiap karya dibuat dengan menggunakan barang-barang bekas yang telah dimanfaatkan secara kreatif. Hal ini menunjukkan kepedulian para seniman terhadap isu-isu lingkungan, serta kemampuan mereka untuk berinovasi dalam penggunaan material.

Menyoroti Isu Lingkungan

Gabriel menambahkan bahwa melalui karya-karya yang terbuat dari material daur ulang, para seniman mampu menyampaikan pesan yang kuat mengenai kondisi Sungai Kapuas saat ini. Mereka menggambarkan masalah seperti degradasi hutan, ancaman kekeringan berkepanjangan, serta dampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mengkhawatirkan.

Inklusi dalam Ekspresi Seni

Untuk memberikan ruang yang lebih inklusif, panitia festival mengklasifikasikan para peserta pameran ke dalam beberapa kategori: lima seniman perempuan, lima seniman anak, sepuluh seniman muda, dan sepuluh seniman senior. Dengan cara ini, festival ini tidak hanya merayakan karya seni, tetapi juga berupaya membangun komunitas yang beragam dan saling mendukung.

Beragam Aktivitas dalam Festival

Selain pameran seni rupa yang berfokus pada kritik ekologi, Rentak Kapuas Festival 2026 juga menawarkan berbagai kegiatan menarik. Festival ini diwarnai dengan perlombaan vokal grup lagu rakyat, lomba berbalas pantun, serta sarasehan budaya yang memperkaya pengalaman pengunjung.

Karya Instalasi yang Menggugah

Salah satu perupa yang menarik perhatian adalah M Ozi Trianda, yang menampilkan karya instalasi berjudul “Antu Utai Tumbuh.” Karya ini dipamerkan dengan cara yang unik menggunakan alat tenun tradisional. Ozi mencoba mengungkapkan filosofi masyarakat Dayak Iban yang menganggap hutan sebagai ayah, tanah sebagai ibu, dan sungai sebagai darah mereka. Melalui karyanya, dia mengajak kita untuk lebih peka terhadap ekologi dan budaya lokal.

Visualisasi Kekhawatiran Lingkungan

Ozi juga menambahkan bahwa visualisasi karyanya tidak hanya sekadar estetika, tetapi juga merupakan ungkapan keresahan pribadinya terhadap perubahan lanskap di Kalimantan Barat. Bentuk-bentuk bebatuan, aliran sungai, pohon tengkawang, dan miniatur roh alam menjadi simbol dari kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan.

Pandangan Melalui Lukisan

Keresahan yang sama juga disuarakan oleh seniman Naufal Saman lewat lukisan ikan arwana yang tergambar di atas jaring penangkap. Karya ini menyoroti dampak negatif dari eksploitasi habitat alami demi kepentingan pasar global. Naufal mengingatkan kita untuk mempertanyakan keberadaan ikan arwana yang kita kagumi, sementara habitatnya terancam punah.

Harapan untuk Generasi Muda

Melalui setiap karya yang dipamerkan, festival ini berharap dapat menggugah kesadaran generasi muda. Pengunjung diharapkan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga untuk belajar dan memahami sejarah, serta terinspirasi untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan Kalimantan Barat.

Menggali Lebih Dalam Isu Lingkungan

Isu lingkungan yang diangkat dalam festival ini sangat relevan mengingat kondisi Kalimantan yang semakin terancam. Melalui seni, para perupa berusaha untuk menyampaikan pesan yang mendalam dan menggugah hati. Mereka berharap bahwa pendekatan ini dapat membawa perubahan positif dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

  • Perubahan iklim yang mempengaruhi pola cuaca.
  • Degradasi lahan akibat pembukaan hutan.
  • Ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
  • Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
  • Pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pelestarian lingkungan.

Kesimpulan dari Rentak Kapuas Festival 2026

Rentak Kapuas Festival 2026 di Kalimantan Barat bukan hanya sekadar acara seni, tetapi juga sebuah gerakan sosial yang mengajak kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan melibatkan seniman lokal dan mengedepankan tema yang relevan, festival ini berperan penting dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya. Melalui seni, harapan untuk masa depan yang lebih baik masih terus hidup dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

➡️ Baca Juga: Padel Resmi Jadi Cabor Baru di Asian Games Jepang 2026

➡️ Baca Juga: Persembahan Wayang Kulit oleh Dalang Perempuan: Menggali Tradisi Budaya Indonesia

Related Articles

Back to top button