Strategi Jobstreet: 5 Cara Gen Z dan Profesional Senior Berkolaborasi Efektif di Era AI

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), dunia rekrutmen mengalami transformasi signifikan. Banyak perusahaan kini lebih memprioritaskan pencarian profesional senior yang dianggap memiliki pengalaman dan kebijaksanaan yang lebih matang dalam pengambilan keputusan. Namun, hal ini membuat banyak pencari kerja muda, terutama dari kalangan Gen Z, merasa terancam dan khawatir tidak mampu bersaing.
Akan tetapi, Jobstreet menggarisbawahi bahwa masa depan dunia kerja tidak seharusnya dipertentangkan antara talenta muda dan senior. Sebaliknya, kunci keberhasilan terletak pada bagaimana kedua generasi ini dapat berkolaborasi secara strategis untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih dinamis dan inovatif.
Pentingnya Kolaborasi Antara Gen Z dan Profesional Senior
Dalam diskusi yang dipandu oleh Jobstreet, Chief People Officer tiket.com, Dudi Arisandi, menjelaskan lima strategi utama untuk memfasilitasi kolaborasi yang efektif antara Gen Z dan profesional senior. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun kekuatan tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan era AI.
1. Rekrutmen Berdasarkan Keterampilan
Salah satu strategi yang diusulkan adalah fokus pada keterampilan kandidat daripada usia atau reputasi institusi pendidikan mereka. Dudi menekankan bahwa tantangan utama dalam rekrutmen bukanlah jumlah pencari kerja, tetapi apakah keterampilan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Perusahaan disarankan untuk mengubah cara mereka menilai kandidat, dengan memberikan perhatian lebih pada kemampuan nyata yang dibutuhkan dan proses seleksi yang dapat mengukur kemampuan tersebut secara objektif. Ini akan memastikan bahwa talenta yang terpilih benar-benar dapat berkontribusi dengan efektif.
2. Menghilangkan Stigma Negatif terhadap Gen Z
Satu lagi tantangan yang dihadapi Gen Z adalah stigma negatif yang sering kali melekat pada mereka. Dudi mengingatkan bahwa pandangan yang merendahkan seperti menganggap Gen Z manja atau sulit diatur justru akan menghambat pertumbuhan baik bagi perusahaan maupun individu itu sendiri.
“Stop blaming, start helping,” ungkap Dudi dalam podcast tersebut. Menurutnya, banyak dari generasi muda ini yang sebenarnya membutuhkan bimbingan dalam pengembangan soft skills, seperti komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
3. Menerapkan Reverse Mentoring
Strategi ketiga yang diungkapkan Dudi adalah penerapan reverse mentoring sebagai norma baru di perusahaan. Dalam konteks ini, profesional senior dapat berbagi pengalaman dan kebijaksanaan mereka, sementara Gen Z dapat memberikan wawasan dan keterampilan digital yang mereka kuasai.
Dudi bahkan membagikan pengalaman pribadinya, di mana ia yang berasal dari “generasi PowerPoint” kini belajar menggunakan Canva dari timnya, serta dari anak bungsunya. Hal ini menunjukkan pentingnya budaya saling belajar lintas generasi yang harus diadopsi oleh perusahaan modern.
4. Fokus pada Kemampuan yang Tidak Mudah Digantikan AI
Perusahaan juga sebaiknya mengalihkan perhatian mereka dari hanya mengejar hard skills, mengingat banyak pekerjaan administratif yang kini dapat ditangani oleh AI. Kemampuan seperti analytical thinking, pengambilan keputusan, serta pengelolaan stakeholder menjadi semakin berharga dan sulit untuk digantikan oleh teknologi.
5. Membangun Strategi SDM Jangka Panjang
Di akhir pembicaraan, Dudi mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi sumber daya manusia yang berkelanjutan dengan menggunakan kerangka kerja yang disebut 5B, yakni Build, Buy, Borrow, Bridging, dan Bot. Menurutnya, organisasi yang kuat adalah yang mampu mengintegrasikan berbagai jalur pengembangan talenta secara strategis, menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi antara generasi yang berbeda.
Dengan menerapkan kelima strategi ini, perusahaan tidak hanya akan dapat memanfaatkan keahlian dan pengalaman yang dimiliki oleh profesional senior, tetapi juga memaksimalkan potensi dan energi yang dibawa oleh Gen Z. Kolaborasi efektif antara kedua generasi ini akan menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang inovatif dan responsif terhadap perubahan yang dibawa oleh era AI.
➡️ Baca Juga: APVI Kirim Surat Terbuka untuk BNN Terkait Isu Vape dan Narkotika yang Mendasar
➡️ Baca Juga: Dukungan Indonesia untuk Palestina Ditegaskan BKSAP DPR RI Saat Bertemu Dubes Abdalfatah Alsattari




