NU dalam Tekanan Arus Global



Kehadiran NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tanggal 31 Januari 1926 dengan banyak sumbangan sejarah berdirinya NKRI tentu bukanlah perkara yang mudah mengatasi pelbagai tekanan dari ancaman luar baik dari segi Ekonomi Global, Ideologi dan Politik yang makin hari makin rumit. 

 

Mengutip pernyataan Manfred B. Steger, 2002 bahwa saat ini Nasionalisme mengalami ujian berat karena mendapat tekanan dari dua sisi secara bersamaan. Di sisi kiri nasionalisme mendapat tekanan dari gerakan globalisasi dan globalisme yang menjebol sekat-sekat geografis Negara Bangsa. 

 

Dalam "The Borderless World (1990) dan The End of Nation State (1996, Kenichi Ohmae membayangkan runtuhnya aekat Negara Bangsa akibat ekspansi ekonomi yang bergerak secara global dengan bantuan teknologi informasi. Ekspansi yang perusahaan yang menembus aekat geografis ini telah menghancurkan spirit Nasionalisme. 

 

Kemudian disisi kanan Nasionalisme mendapat tekanan dari kaum fundamentalis - formalis Islam. Menurut kelompok ini, Nasionalisme bertentangan dengan prinsip kekuatan umat yang diwajibkan oleh Islam. Kesatuan umat Islam wajib didasarkan pada ikatan akidah, bukan ikatan kebangsaan. Oleh karenanya secara syar'i, umat islam diharamkan mengadopsi Nasionalisme. Selain itu, kaum fundamentalis - formalis Islam juga menyebut bahwa Nasionalisme adalah alat bagi kaum kafir untuk memecah belah kaum Muslim dan menghancurkan khilafah. (Abdul Qadim Z. 1990). 

 

Akibat dari tekanan kuat kedua sisi tersebut Nasionalisme menjadi semakin luntur. Seperti fenomena pergeseran dari Citizenship beralih ke Netizenchip. 

 

Dalam situasi seperti ini, NU hadir menjadi benteng Nasionalisme untuk melawan tekanan dari kedua sisi. Hal ini tampak dalam komitmen NU untuk menjaga keutuhan NKRI sebagaimana tercermin jargon NKRI harga mati. 

 

Maka dari itu tidak heran apabila banyak yang menjadikan NU sebagai sebuah ancaman. Dianggap sebagai organisasi Liberal, Syiah, Pro Asing, Pro Kafir, Ahlul Bid'ah dan lain sebagainya. Itu adalah konsekuensi. 

 

Oleh karena itu sebagai Nahdliyyin, mari kita bersatu dan jangan pernah lelah bersama NU. Yang harus dipahami, bahwa NU tetap konsisten menjaga NKRI dan arus perubahan global. Sehingga misi ukhwah Islamiyah, Wathoniyah dan Basyariah daripada NU dapat tercapai bersama. 

 

Tabik.